Persiapan Menyambut Ramadhan Secara Maksimal

8/06/2010 09:36:00 AM Posted In Edit This 0 Comments »

Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islam harus mengambil keberkahan Ramadhan dari semua aktifitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Namun demikian semua aktifitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusu’an ibadah ramadhan terutama di 10 terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah saw. menikahkan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan Zainab.

Persiapan Mental
Persiapan mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting. Apalagi pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dll, sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusu’an ibadah Ramadhan. Dan kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

Persiapan ruhiyah (spiritual)
Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:” Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).

Persiapan fikriyah
Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.

Persiapan Fisik dan Materi
Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :
• Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
• Berobat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
• Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).

Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusu’an ibadah Ramadhan.

Merencanakan Peningkatan Prestasi Ibadah (Syahrul Ibadah)
Ibadah Ramadhan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, dan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Ibadah Ramadhan yang kita lakukan harus dapat merubah dan memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa. Allah SWT berfirman : « Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri » (QS AR- Ra’du 11). Diantara bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan Ramadhan, misalnya; peningkatan, ibadah puasa, peningkatan dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan, pemahaman dan pengamalan. Peningkatan dalam aktifitas sosial, seperti: infak, memberi makan kepada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan dan meringankan beban umat Islam. Juga merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif dan memantapkan tekad untuk tidak membelanjakan hartanya, kecuali kepada pedagang dan produksi negeri kaum muslimin, kecuali dalam keadaan yang sulit (haraj).

Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat)
Bulan Ramadhan adalah bulan dimana syetan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami. Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah SWT, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat.

Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur 31).

Oleh karena itu, di bulan bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan dan meminta ma’af kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfiroh (ampunan), rahmat dan karunia Allah SWT. “Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS Hud 52)

Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah, Da’wah
Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para da’i dan ulama untuk melakukan da’wah dan tarbiyah. Terus melakukan gerakan reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dll, sampai terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan bukan hanya dibulan Ramadhan, tetapi juga diluar Ramadhan.

Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul Muhasabah (Bulan Evaluasi)
Dan terakhir, semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya. Semoga Allah SWT senantiasa menerima shiyam kita dan amal shaleh lainnya dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera. Dan itu baru akan terwujud jika bangsa ini yang mayoritasnya adalah umat Islam kembali kepada Syariat Allah.

Hidup itu mencintai dengan Ikhlas

8/04/2010 08:04:00 PM Posted In Edit This 0 Comments »

Hidup adalah berkah terbesar manusia,hidup itu senyuman,hidup itu tangisan,hidup itu senang,hidup itu sedih,hidup itu mudah,hidup itu sulit,seberapa ikhlas kita menjalani hidup ini?..

sering kita pikir hidup itu nggak adil ada yang dilahirkan lebih tampan,atau lebih cantik dari kita,ada yang lebih kaya dari kita,kita sering iri sama orang lain,sering kita pikir tuhan gak adlil sama kita,hingga kita gak ikhlas menjalani hidup kita,padahal keikhlasan itu salah-satu cara menuju kesuksesan!!

Apa??gak percaya??oke ayo kita lakukan perbandingan!!pertama dari hal yang paling umum!!BELAJAR!!

coba deh belajar mata pelajaran yang kamu gak suka,ber jam-jam!! atau seharian,pasti mumet dan gak mood kan??,terus,coba belajar mata pelajaran yang kamu suka,tapi sebentar aja,pasti rasanya kangen dan gak cukup waktunya kan?hasilnya?jelas yang kita lakukan dengan senang hati dan bahagia pasti lebih banyak masuk keotak,itu dia fungsi keikhlasan!!

eh,tapi ada yang kelupaan,,ikhlas itu apa yah artinya??karena saya gak terlalu paham,saya jawab sebisanya yah??,Ikhlas itu,tidak pamrih,hidup sebaik-baiknya kita hidup,memberi tanpa meminta kembali,dan melupakan keburukan yang kita terima dari orang lain!!

OK!,next..cara mencintai dengan ikhlas

IKHLAS DALAM MENCINTAI TUHAN

Ikhlas dalam mencintai Tuhan?,sulit sih sepertinya,apalagi kita gak bisa lihat tuhan kita,malah kadang kita meragukan keberadaan sang pencipta..Astagfirullah..

selama ini kita ibadah karena apa yaaaaa??waktu sekitar umur 5-9 taun saya jawab disuruh Allah,atau..biar dapet pahala,naah ini namanya gak ikhlas,maklum masih anak-anak(gak mao disalahin >.< heeheee)

Ikhlas mencintai tuhan itu mungkin(mungkin lho yaaa),beribadah tidak mengharapkan pamrih,baik beribadah ke-sesama manusia,ataupun beribadah ke Allah,tapi,apa bisa kita mencintai Allah sedangkan ibadah kita bukan karena-Nya,melainkan mengharapkan pahala dan surga,tapi apa itu salah??

Coba kita kembali ke episode sebelumnya(cieeeeh),”ikhlas itu tidak pamrih” kalau mengharapkan pahala,dan surga,apa kita pamrih?,apa kita beribadah karena cinta kita kepada sang pencipta?atau demi kepentingan kita mendapatkan imbalan?

Seorang Ustad menjawab,sesuka-sukanya seseorang melakukan sesuatu pasti ada kalanya bosan,seperti halnya ahli ibadah,jadi Allah yang Maha mengetahui segala-sesuatunya memberi kita iming-iming yaitu pahala dan surga-Nya,jadi kita termotivasi,kira-kira seperti itu.(ga’ pandai menjelaskan heeheeehee)

Sekarang kita beralih ke episode berikutnya(asli penulisnya mabok nih wahaha)

IKHLAS MENCINTAI SESAMA MANUSIA

Ini adalah tingkat lebih mudah dari mencintai Tuhan,contoh paling sederhananya adalah mencintai ”kekasih”,kira-kira,apa kita terus mencintai seseorang kalau cinta kita tidak diperhatikan,atau tidak dibalas?(pengalaman pribadi penulis heehee)

Nah,tadi mah Cuma pemanasan penulis,gak ada hubungannya sama IKHLAS mencintai sesama manusia,percaya gak percaya Ikhlas mencintai manusia adalah cara supaya kita bisa mencintai Allah,dan dicintai Allah,beruntung kan kita kalo gitu?,dicintai sama sang Maha pencipta,nah biar pada percaya Ikhlas mencintai manusia sangat berpengaruh terhadap mencintai Allah,yuk kita baca cerita berikut ini!!

Dalam kitab Al-Mahabah, cinta kepada Allah adalah puncak dari segala tujuan (al-ghoyatul ghoyah) seluruh maqom spritiual. Surga adalah imbalan sepantasnya bagi kecintaan kepada Allah. Tapi menurut Ghazali kenikmatan surga tidak ada artinya dibanding kenikmatan perjumpaan dengan Allah. Bahkan ditegaskan dalam bahasa para sufi, meminta surga tanpa mengharap perjumpaan dengan Allah adalah tindakan nothing, stupid ! hix…hix…hix….

Sejujurnya, pasti kita semua pengennya surga, gak ada yang bercita-cita masuk neraka, meski untuk bertemu idola kita misalnya yang kebetulan anggota naar, so apa iya, sholat dan puasa adalah tiket cespleng nyampe ke surga …? Yok, lihat kisah berikut.



Alkisah sufi besar Abu Ben Azim terbangun di tengah malam. Kamarnya terang benderang oleh cahaya, dan ditengah cahaya itu ada sosok makhluk (yg ternyata malaikat) dengan sebuah buku ditangan. Sedang apa Anda ?” Tanya Abu Ben pada malaikat tersebut. ”Saya sedang mencatat daftar pecinta Allah “ jawab malaikat. Adakah nama saya tercantum disana wahai malaikat ? tanya Abu Ben harap-harap cemas. Malaikat menyodorkan buku yang dipegangnya, Abu Ben melihatnya dan tak lama kemudian dia kecewa, tidak ada namaku disini. Namun dia segera bercermin, ”yah, mungkin aku memang terlalu kotor untuk menjadi pecinta Allah, kalau demikian, biarlah sejak malam ini aku menjadi pecinta manusia saja.



Beberapa malam kemudian, ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya kembali terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir kembali. Namun Abu Ben terkejut karena kini namanya tercantum di rating teratas daftar pecinta Allah (bukan AGB Nielsen). Wahai malaikat, bukankah aku bukan pecinta Allah ? aku hanyalah pecinta manusia. Kata malaikat, ”baru saja Allah berkata bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Allah hingga engkau mencintai sesama manusia”. Ups ! rupanya Abu Ben kemudian memproyeksikan cinta dan rindunya kepada Allah dengan berbagi kasih kepada kaum fakir miskin, dia dekati dan belai anak yatim, dia curahkan cinta itu kepada mereka. Dan memang dalam sebuah hadist Qudsi Allah berfirman, ”Aku tidak menjadikan Ibrahim sebagai khalil (kekasih)Ku melainkan karena ia memberi makan fakir miskin dan sholat ketika orang-orang tertidur lelap.

Gituuuuuu…hehehe,nah sekarang yang terakhir,setelah bisa ikhlas mencintai Allah,dan Manusia,baru kita mulai Ikhlas menjalani hidup!!

Hidup tanpa cinta itu hampa,cinta tanpa keikhlasan itu nafsu,hidup itu indah kalau kita menjaga nafsu,hidup itu indah kalau kita Ikhlas…