Kekuatan dalam Sabar dan Sholat

10/24/2009 12:09:00 PM Posted In Edit This 0 Comments »

Kekuatan Sabar dan Shalat (1)

Sabar adalah suatu kekuatan yang lahir dari lubuk hati, yang kemudian mempengaruhi jasmani dan rohani, sehingga lahirlah kesabaran jasmani dan kesabaran rohani.
Dimaksudkan dengan kesabaran jasmani ialah kesabaran dalam melaksanakan kewajiban yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam peperangan sabar dalam menahan sakit atau cobaan yang menimpa cobaan yang menimpa anggota tubuh.
Dimaksudkan dengan kesabaran rohani ialah kesabaran yang berkaitan dengan kemampuan menahan keinginan hawa nafsu, seperti menahan kemarahan. menahan syahwat dan sebagainya.
Dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan menggunakan kesabaran, baik kesabaran jasmani maupun kesabaran rohani, karena kesabaran itu mempunyai kekuatan yang luar biasa.
Di bawah ini penulis kutipkan beberapa ayat yang berkenaan dengan kesabaran:
Artinya :
1- Wahai Nabi (Muhammad), kabarkanlah semangat para mu’min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti. (al-Anfal [8]: 65).
2- Sekarang Allah telah meringankan kamu, karena dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh), dan jika diantara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Anfal [8]: 66).
3- Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan s]bar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar (Al-Baqarah [2]: 153).
4- Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenamya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Al-Baqarah [2]: 154).
5- Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kepalaran, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah [2]: 155).
6- (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Inna lillahi wa innaa ilaihi raji’un”. (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. (Al-Baqarah (2): 156).
7- Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]: 157).
Tafsir Mufradat:
SHABR: Sabar, berasal dari kosakata: shabara - Yashbiru - shabran, yang berarti: menahan, berani, bersabar.
Dalam Al-Qur’an, kata shabar diulang sebanyak 103 kali yang tersebar dalam 46 surat dan 101 ayat.
Menurut al-Ashfahani, kata “shabr” mempunyai arti yang berbeda-beda sesuai dengan objeknya.
Sebagian mufassir memberikan definisi “shabr” sebagai berikut: Shabr ialah menahan dari atau tabah dalam menghadapi kesulitan atau cobaan yang berat, baik cobaan jasmani maupun cobaan rohani.
MAUT: bentuk masdar (infinitif), berasal dari kosakata : maata - yamuut - mautan. Yang berarti hilangnya kekuatan dari sesuatu, lawan dari “hayyin” (hidup). Menurut Muhammad Ibrahim, maut ialah terpisahnya kehidupan dari sesuatu, lalu menjadi mati. Menurut al-Ashfahani, kematian itu merupakan akhir dari kehidupan di dunia yang fana ini untuk menuju kehidupan yang abadi. Kehidupan abadi itu tidak dapat ditempuh kecuali dengan kematian. Kematian adalah pintu masuk ke dalam kehidupan yang sempurna. Kesempurnaan hidup hanya dapat ditemukan di akhirat nanti. Tetapi kematian tidak dapat direncanakan, kapan harus mati, kapan mengakhiri kehidupan ini, sebab kematian itu hanya di tangan Allah SwT. Hanya Dialah yang menentukan mati dan hidup. Jika ajal sudah datang, tiada seorangpun dapat menundanya, atau mempercepatnya satu detik pun. (Yunus ([10] :49).
Sebab Nuzul ayat:
Menurut Ishaq bin Rahawaih dalam musnadnya, dari Ibni ‘Abbas ia berkata : setelah Allah SwT mewajibkan kepada kaum Muslimin agar setiap satu orang Muslim dapat mengalahkan sepuluh orang kafir, mereka merasa keberatan. Karena kesabaran kaum Muslimin sudah menurun, maka Allah SwT menurunkan beban kewajibannya, sehingga menjadi, setiap satu orang Muslim harus dapat mengalahkan dua orang kafir.
Lalu turunlah ayat:
“… Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh…. (Al-Anfal [8]: 65). Lihat as-Siyuthi, 1954: 113).
Ayat tersebut memberikan pengertian bahwa kesabaran dalam peperangan pun mempunyai kekuatan yang luar biasa, dimaksudkan kesabaran dalam peperangan adalah keberanian dan keteguhan. Karena kesabaran kaum Muslimin sudah menurun, maka kekuatan melawan musuh pun menurun.
Munasabah
Pada ayat sebelumnya, telah dijelaskan bahwa Allah SwT, telah cukup sebagai pelindung bagi Nabi Muhammad saw, dan bagi kaum Muslimin. Kemudian pada ayat berikutnya (ayat 65 dan ayat 66), dijelaskan bahwa kaum Muslimin harus dapat mengalahkan musuh. Syaratnya ialah harus mempunyai kesabaran yang tinggi, tanpa kesabaran tidak mungkin dapat mengalahkan musuh, sebab kekuatan itu terletak pada kesabaran, yaitu keberanian dan tabah menghadapi segala macam cobaan.
Apabila memiliki kesabaran yang tinggi maka kekuatan melawan musuh menjadi luar biasa, dua puluh orang Muslim yang sabar, dapat mengalahkan dua ratus musuh, dan seratus orang Muslim yang sabar dapat mengalahkan seribu musuh, yaitu satu banding sepuluh. Karena kesabaran kaum Muslimin sudah menurun, maka seratus orang Muslim hanya dapat mengalahkan dua ratus musuh. Hanya satu banding dua.
Sekarang kaum Muslimin lebih lemah lag., Sebagai contoh negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim di Timur Tengah, dapat dikalahkan dengan mudah oleh Israel yang jumlahnya lebih sedikit. Yang demikian itu karena imannya, kesabarannya, pengetahuan dan teknologinya sangat lemah.
Menurut Muhammad Rasyid Ridho,. Nabi saw diperintahkan agar mendorong kaum Mukminin untuk berperang untuk membela agama Allah, yakni untuk mempertahankan kebenaran dan keadilan, dan membasmi kebatilan dan kezaliman. Maka harus meperkuat diri lahir dan batin, jasmani dan rohani. Jasmani ialah kekuatan persenjataan dan pasukan, sedang rohani ialah kesabaran dan keimanan yang tinggi sehingga menjadi tabah dalam menghadapi segala macam cobaan dan penderitaan, sehingga jumlah yang sedikit dapat mengalahkan musuh yang jumlahnya lebih besar.
Pada ayat tersebut digambarkan : seratus kaum Mukminin yang sabar dapat mengalahkan seribu musuh atau satu orang Mukmin yang sabar dapat mengalahkan sepuluh orang musuh. Yang demikian itu karena orang-orang kafir pada waktu itu tidak menguasai strategi perang, sedang kaum Mukminin menguasainya dengan baik, juga mempunyai keyakinan bahwa membela agama Allah merupakan sarana untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, meraih keridaan Allah SwT, dalam menegakkan sunnah-Nya yang adil, dan memperbaiki kesejahteraan hamba-Nya, memperbaiki akhlak, menjaga hukum-hukum-Nya serta memperkuat persatuan kaum Muslimin yang abadi. Membela agama Allah SwT, paling tidak akan memperoleh dua keuntungan, yaitu : kemenangan dan kebahagiaan di dunia dna di akhirat.
Adapun orang-orang kafir dalam segala usahanya, hanya untuk meraih keduniaan dan hanya ingin memenuhi hawa nafsu dan syahwatnya, karena mereka mengingkari hari kemudian bahkan mengingkari Allah SwT dan lebih mencintai dunia
“Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi) manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Dan Allah Maha Melihat apayang mereka kerjakan” (Al-Baqarah [2] : 96).l
Kekuatan Sabar dan Shalat (2)

Lima ayat dari surat Al-Baqarah [2], yaitu ayat 153 sampai dengan ayat 157, merupakan satu kesatuan, baik dalam nadanya, susunan kata-kata dan kalimatnya, maupun maknanya. Permulaan ayat mengarah kepada akhir ayat dan penghabisannya kembali kepada permulaannya. Hal ini memberikan isyarat bahwa lima ayat tersebut diturunkan sekaligus, tidak terpisah. Nada ayat tersebut memberikan pengertian, bahwa lima ayat tersebut diturunkan sebelum ayat yang memerintahkan berperang, dan sebelum disyariatkan Allah untuk berjihad.
Di dalamnya terkandung isyarat bahwa orang-orang Mukmin mengalami cobaan dan musibah, seperti: mati, sakit, rasa takut, kelaparan dan sebagainya.
Sunnah (peraturan) Allah berlaku terhadap hamba dan makhluknya, tiada seorang pun dapat mengubah atau mengganti sunnah-Nya.
Cobaan yang menimpa seseorang berbeda dengan cobaan yang menimpa orang banyak. Cobaan yang menimpa orang banyak sangat besar pengaruhnya, dan berakibat merusak susunan kehidupan masyarakat, karena kerusakan yang menimpa mereka lebih besar. Cobaan yang menimpa orang banyak itulah yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 153 -157.
Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak selamanya cobaan itu berakibat buruk, melainkan di belakangnya terdapat hikmah yang sangat besar, yaitu mengingatkan manusia agar kembali kepada Allah SwT, kembali kepada Nur Ilahi, dengan memperbanyak ibadah dan meningkatkan takwa kepada-Nya.
Ayat-ayat tersebut membangkitkan kaum Mukminin dan menghapus rasa takut untuk menghadapi perang membela agama Islam, agama Allah SwT, apabila diperangi musuh-musuh Islam. Ayat-ayat tesebut juga memberikan isyarat bahwa dihadapan kaum Mukminin akan muncul suatu cobaan yang sangat dahsyat, yang harus dihadapi dengan kekuatan lahir dan batin, jasmani dan rohani, dengan kesabaran dan shalat dengan memohon rahmat dan hidayah kepada Allah SwT.
Dimaksudkan dengan “sabar” ialah tidak berputus asa dalam berusaha meraih kemenangan dan keuntungan serta tabah dalam menghadapi segala macam kesulitan dan cobaan, sedang yang dimaksudkan dengan shalat ialah suatu ibadah tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, serta dengan bertawajjuh (menghadap) kepada Allah SwT dan memohon ma’unah (pertolongan) kepada Allah SwT, agar diberi kekuatan lahir dan batin, sebab kekuatan itu hanya dari Allah SwT.
Kesabaran adalah karunia dari Allah SwT, yang sangat besar, dan merupakan sifat yang sangat terpuji, sehingga dalam Al-Qur’an disebutkan berkali-kali.
Dalam surat Luqman, Allah berfirman:
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting”. (Luqman [31]: 17).
Pada ayat tersebut Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin agar mendirikan shalat, menyuruh berbuat kebaikan, meninggalkan kemungkaran dan bersabar dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebab dalam shalat terkandung berbagai macam doa dan dzikir, sehingga orang yang mendirikan shalat, hatinya menjadi tenang, dan dekat kepada Allah SwT. Karena kedekatannya kepada Allah SwT, maka doanya terkabul cepat atau lambat, dan terjaga dari berbuat keji dan mungkar, sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya:
“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-’Ankabuut [29]: 45).
Pada ayat lainnya Allah berfirman:
“Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat [41] : 35).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa hanya orang-orang yang sabar dan orang-orang yang beruntung besar, yang dianugerahi sifat-sifat yang baik. Pada ayat yang lain Allah berfirman:
“Katakanlah (Muhammad): Wahai hamba-hambaku yang beriman, tertakwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa hisab.” (Az-Zumar [39] : 10).
Karena sabar itu sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan dan keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat, maka Al-Qur’an dalam berbagai ayat menganjurkan kepada orang-orang Mukmin agar bersabar dalam menghadapi segala macam cobaan dan kesulitan, atau ujian, dalam menghadapi keinginan dalam menghadapi ibadah dan sebagainya, misalnya:
a) Dalam menghadapi musibah Allah berfirman:
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap musibah yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting”. (Luqman [31]: 17).
b) Dalam menghadapi fitnah, Allah berfirman:
“Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya ….. (Thaha [2] : 130).
Pada ayat tersebut Allah SwT, memerintahkan kepada orang-orang Mukmin agar bersabar dalam menghadapi fitnah dan hendaknya dapat menahan diri dari kemarahan, sebab kemarahan itu tidak dapat menyelesaikan masalah, adapun cara menegakkan kesabaran antara lain dengan memperbanyak dzikir di waktu pagi dan sore.
c) Dalam menghadapi takdir (kepastian) Allah, misalnya: takdir kematian, kelahiran dan sebagainya, Allah SwT, memberikan tuntunan sebagai berikut:
“Dan bersabarlah dalam menunggu kepastian Tuhanmu, sebab sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan kami dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun (tidur)”. (Ath-Thuur [52]: 48).
d) Dalam menghadapi kegiatan ibadah, sebab ibadah itu juga memerlukan kesabaran apalagi ibadah yang memerlukan jasmani, rohani dan dana, seperti ibadah haji. Maka memerlukan kesabaran yang tinggi, sebab ibadah haji menghadapi berbagai masalah yang melelahkan. Dalam hal ini, Allah berfirman:
“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada orang yang sama dengan Dia (yang wajib disembah). (Maryam [19]: 65).
e) Sabar dalam menghadapi cita-cita, hajat atau keinginan yang luar biasa, sebab keinginan tanpa kesabaran dapat menimbulkan kerusakan. Dalam hal ini Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah [2]: 153).
Adapun mengenai shalat, syariat Islamiyah memandang sebagai ibadah yang paling besar dan paling agung. Maka dalam Al-Qur’an perintah mendirikan shalat disebutkan berkali-kali, dan ditegaskan bahwa shalat itu dapat menjaga manusia dari perbuatan keji, sebagaimana disebutkan dalam firman:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikahlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-’Ankabuut [29] : 45).
Dalam suatu Hadits, ditegaskan bahwa shalat itu merupakan salah satu rukun Islam yang kelima:
“Dari Abdullah bin ‘Umar, ia berkata: Nabi saw bersabda: Islam dibangun di atas lima (rukun), yakni: Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang pantas disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menunaikan haji ke Baitul Haram, dan menunaikan puasa Ramadlan. (Diriwayatkan oleh Muslim : 21/16 : 32).
Para ulama sependapat bahwa sabar dan shalat mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi segala macam cobaan dan ujian, karena itulah perintah bersabar dan mengerjakan shalat disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur’an, dan ditegaskan bahwa orang-orang yang sabar selalu dekat di sisi Allah SwT dan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah SwT, sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya:
( … … Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang sabar). (al-Baqarah [2]: 153).l

0 komentar: